Universitas Brawijaya (UB) kembali menjadi
juara umum dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30 yang dilaksanakan di UMI Makasar.
Hasil tersebut tentu membanggakan bagi seluruh civitas akademika UB maupun
alumni. Karena saat ini PIMNAS masih dianggap sebagai tolak ukur dari prestasi
penalaran dan kreativitas mahasiswa di Indonesia. Terlebih ini merupakan juara
umum ketiga secara berturut-turut (hattrick). PIMNAS yang secara resmi ditutup
pada hari Sabtu 26 Agustus 2017 menempatkan UB, UGM dan IPB sebagai universitas
yang meloloskan peserta terbanyak yaitu sebanyak 31 kontingen.
Namun, sebagai civitas akademika Fakultas
Ilmu Administrasi (FIA), ada yang berbeda PIMNAS tahun ini dengan tahun
sebelumnya. Pada PIMNAS tahun 2016 yang dihelat di Bogor, FIA menyumbang satu
medali perak. FIA ikut berkontribusi dalam penobatan UB sebagai juara umum
PIMNAS yang ke-29 lalu. Tahun ini Fakultas Ilmu Administrasi absen, tidak ada karya
mahasiswa FIA yang lolos seleksi PIMNAS sehingga tidak mampu berkontribusi
dalam perhelatan PIMNAS yang ke-30 ini. Sebagai fakultas tertua kedua di UB,
merupakan sebuah ironi jika FIA tidak mampu meningkatkan kualitas dan menambah
kontribusi bagi kemajuan universitas, yang salah satunya melalui PIMNAS. Masih
rendahnya tradisi literasi bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya.
Rendahnya tradisi literasi
Rendahnya tradisi literasi, khususnya
menulis, memang masih menjadi patologi nasional. Beberapa lembaga survei
menyatakan fakta tentang rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for
International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya
literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada
penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65
negara dalam kategori minat baca. Data UNESCO menyebutkan posisi membaca
Indonesia 0.001%—artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki
minat baca.
Maret 2016 lalu, sebuah studi yang dilakukan
John W. Miller, President Central Connecticut State University di New Britain,
Amerika Serikat, memberikan hasil yang mengejutkan. Dalam daftar World’s Most
Literate Nations Ranked yang merilis tingkat literasi di 62 negara, Indonesia ditempatkan
pada posisi dua terendah dari penelitian yang menghitung dari jumlah dan ukuran
perpustakaan, serta tingkat pembaca koran. Nyaris tidak ada peningkatan tradisi
literasi dalam 5 tahun terakhir.
Orang Indonesia lebih terbiasa berbicara dan
mendengar daripada berliterasi. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi
(Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir mengungkapkan, sekitar 1.200 orang guru
besar di Indonesia tidak melakukan publikasi ilmiah khususnya di jurnal
internasional. Data lain menunjukkan bahwa jumlah dosen sekitar 265.000 di
seluruh Indonesia yang tersebar di empat ribu kampus, publikasi ilmiah baru
mencapai 9.989 artikel hingga akhir 2016 (menristekdikti, 2017). Jumlah
publikasi ilmiah dengan jumlah dosen yang ada di Indonesia hanya 3,7%.
Sosialisasi Pekan Kreativitas Mahasiswa KAHMI
FIA UB
Rendahnya tradisi literasi khususnya di
lingkungan FIA UB menjadi perhatian tersendiri bagi KAHMI FIA UB. Absennya
kontingen FIA dalam PIMNAS 2017 cukup menjadi warning alarm untuk segera
berbenah. Liberalisasi ilmu pengetahuan yang massif terjadi di Indonesia pasca
reformasi jika tidak ditanggapi dengan kritis maka akan menyeret civitas
akademika pada pragmatisme berlandaskan hukum pasar (Dhakidae & Hadiz,
2006; Darmaningtyas, 2014; Nugroho, 2015).
Menyikapi hal tersebut, KAHMI FIA UB
melakukan sosialisasi Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada kader-kader HMI
komisariat ilmu administrasi. Sabtu 26 Agustus 2017, dua dosen FIA UB yang
merupakan KAHMI FIA UB berdiskusi di komisariat HMI FIA UB. Acara diskusi dan
sosialisasi tersebut bertujuan agar nalar kritis mahasiswa khususnya
kader-kader HMI FIA UB meningkat.
Acara informal namun tetap profesional tersebut
dipantik oleh Ayunda Ike Wanusmawatie dan Kanda Mukhamad Kholid Mawardi yang
merupakan dosen FIA UB. Pada kesempatan tersebut didiskusikan terkait dengan
dasar-dasar PKM, pentingnya penelitian, bagaimana menelurkan gagasan, jenis dan
kasus PKM, serta sharing experience. Tujuannya agar meningkatkan minat dan
motivasi kader dalam kegiatan literasi pada umumnya dan PKM pada khususnya.
Diharapkan dengan terjalinnya komunikasi yang
baik dan konsisten antara kader dengan alumni, dapat terjadi sharing knowledge. Motivasi berliterasi
kader-kader HMI FIA UB diharapkan dapat meningkat sehingga dapat berkontribusi
pada kemaslahatan umat. Seperti kata pepatah, warisilah api perjuangan pada
generasi penerus, bukan abunya.
(a.a.n)

0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !