Headlines News :
Home » , , » Absennya FIA di PIMNAS 2017 dan Sosialisasi PKM KAHMI FIA UB

Absennya FIA di PIMNAS 2017 dan Sosialisasi PKM KAHMI FIA UB

Written By harapanmuliainsani on Minggu, 27 Agustus 2017 | Agustus 27, 2017





Universitas Brawijaya (UB) kembali menjadi juara umum dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-30 yang dilaksanakan di UMI Makasar. Hasil tersebut tentu membanggakan bagi seluruh civitas akademika UB maupun alumni. Karena saat ini PIMNAS masih dianggap sebagai tolak ukur dari prestasi penalaran dan kreativitas mahasiswa di Indonesia. Terlebih ini merupakan juara umum ketiga secara berturut-turut (hattrick). PIMNAS yang secara resmi ditutup pada hari Sabtu 26 Agustus 2017 menempatkan UB, UGM dan IPB sebagai universitas yang meloloskan peserta terbanyak yaitu sebanyak 31 kontingen. 

Namun, sebagai civitas akademika Fakultas Ilmu Administrasi (FIA), ada yang berbeda PIMNAS tahun ini dengan tahun sebelumnya. Pada PIMNAS tahun 2016 yang dihelat di Bogor, FIA menyumbang satu medali perak. FIA ikut berkontribusi dalam penobatan UB sebagai juara umum PIMNAS yang ke-29 lalu. Tahun ini Fakultas Ilmu Administrasi absen, tidak ada karya mahasiswa FIA yang lolos seleksi PIMNAS sehingga tidak mampu berkontribusi dalam perhelatan PIMNAS yang ke-30 ini. Sebagai fakultas tertua kedua di UB, merupakan sebuah ironi jika FIA tidak mampu meningkatkan kualitas dan menambah kontribusi bagi kemajuan universitas, yang salah satunya melalui PIMNAS. Masih rendahnya tradisi literasi bisa menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Rendahnya tradisi literasi

Rendahnya tradisi literasi, khususnya menulis, memang masih menjadi patologi nasional. Beberapa lembaga survei menyatakan fakta tentang rendahnya budaya literasi di Indonesia. Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, pada tahun 2012 budaya literasi di Indonesia menempati urutan ke-64 dari 65 negera yang disurvei. Pada penelitian yang sama ditunjukkan, Indonesia menempati urutan ke-57 dari 65 negara dalam kategori minat baca. Data UNESCO menyebutkan posisi membaca Indonesia 0.001%—artinya dari 1.000 orang, hanya ada 1 orang yang memiliki minat baca.

Maret 2016 lalu, sebuah studi yang dilakukan John W. Miller, President Central Connecticut State University di New Britain, Amerika Serikat, memberikan hasil yang mengejutkan. Dalam daftar World’s Most Literate Nations Ranked yang merilis tingkat literasi di 62 negara, Indonesia ditempatkan pada posisi dua terendah dari penelitian yang menghitung dari jumlah dan ukuran perpustakaan, serta tingkat pembaca koran. Nyaris tidak ada peningkatan tradisi literasi dalam 5 tahun terakhir.

Orang Indonesia lebih terbiasa berbicara dan mendengar daripada berliterasi. Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Prof. Mohamad Nasir mengungkapkan, sekitar 1.200 orang guru besar di Indonesia tidak melakukan publikasi ilmiah khususnya di jurnal internasional. Data lain menunjukkan bahwa jumlah dosen sekitar 265.000 di seluruh Indonesia yang tersebar di empat ribu kampus, publikasi ilmiah baru mencapai 9.989 artikel hingga akhir 2016 (menristekdikti, 2017). Jumlah publikasi ilmiah dengan jumlah dosen yang ada di Indonesia hanya 3,7%.

Sosialisasi Pekan Kreativitas Mahasiswa KAHMI FIA UB

Rendahnya tradisi literasi khususnya di lingkungan FIA UB menjadi perhatian tersendiri bagi KAHMI FIA UB. Absennya kontingen FIA dalam PIMNAS 2017 cukup menjadi warning alarm untuk segera berbenah. Liberalisasi ilmu pengetahuan yang massif terjadi di Indonesia pasca reformasi jika tidak ditanggapi dengan kritis maka akan menyeret civitas akademika pada pragmatisme berlandaskan hukum pasar (Dhakidae & Hadiz, 2006; Darmaningtyas, 2014; Nugroho, 2015).

Menyikapi hal tersebut, KAHMI FIA UB melakukan sosialisasi Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) pada kader-kader HMI komisariat ilmu administrasi. Sabtu 26 Agustus 2017, dua dosen FIA UB yang merupakan KAHMI FIA UB berdiskusi di komisariat HMI FIA UB. Acara diskusi dan sosialisasi tersebut bertujuan agar nalar kritis mahasiswa khususnya kader-kader HMI FIA UB meningkat. 

Acara informal namun tetap profesional tersebut dipantik oleh Ayunda Ike Wanusmawatie dan Kanda Mukhamad Kholid Mawardi yang merupakan dosen FIA UB. Pada kesempatan tersebut didiskusikan terkait dengan dasar-dasar PKM, pentingnya penelitian, bagaimana menelurkan gagasan, jenis dan kasus PKM, serta sharing experience. Tujuannya agar meningkatkan minat dan motivasi kader dalam kegiatan literasi pada umumnya dan PKM pada khususnya.

Diharapkan dengan terjalinnya komunikasi yang baik dan konsisten antara kader dengan alumni, dapat terjadi sharing knowledge. Motivasi berliterasi kader-kader HMI FIA UB diharapkan dapat meningkat sehingga dapat berkontribusi pada kemaslahatan umat. Seperti kata pepatah, warisilah api perjuangan pada generasi penerus, bukan abunya.

(a.a.n)
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Copyright © 2017. YAYASAN HARAPAN MULIA INSANI (YHMI) - All Rights Reserved