Headlines News :
Home » » Pembangunan Masjid dan Islamic Centre Al-Insan Cita

Pembangunan Masjid dan Islamic Centre Al-Insan Cita

Written By harapanmuliainsani on Selasa, 01 Agustus 2017 | Agustus 01, 2017



Dasar Pemikiran Pembangunan Masjid dan Islamic Centre Al-Insan Cita

Rasulullah Shallallahu’Ala ihi wa Sallam mengingatkan bahwa sebaik-baik shalat ialah shalat yang dikerjakan di rumah kecuali shalat fardhu. Shalat fardhu lebih utama dikerjakan di masjid secara berjamaah. Hal ini menunjukkan pentingnya masjid sebagai sarana ibadah. Orang-orang yang terikat hatinya dengan masjid termasuk golongan yang akan mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat, demikian dijelaskan rasulullah dalam salah satu sabdanya. Pengadaan masjid termasuk salah satu investasi amal yang akan mengalirkan pahala terus menerus bagi orang-orang yang berinfaq untuk membangunnya. Karena hal ini termasuk salah satu dari tiga amal yang dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu’Ala ihi wa Sallam: “Apabila anak Adam (manusia) meninggal dunia, maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara, yaitu: sedekah jariah (termasuk membangun mushola), ilmu yang bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kedua orang uanya” (HR. Muslim). Bagi mereka yang membangun masjid/ mushola atau menyediakan dana untuk pembangunan termasuk dalam kategori Firman Allah Al-Baqarah : 261

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) agi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 261)

Betapa mujurnya orang yang suka menafkahkan hartanya di jalan Allah oleh ayat ini dilukiskan sebagai berikut: bahwa orang tersebut adalah seperti seorang yang menyemaikan sebutir benih di tanah yang subur. Benih yang sebutir itu menumbuhkan sebatang pohon dan pohon itu bercabang tujuh, setiap cabang menghasilkan setangkai buah dan setiap tangkai berisi seratus biji sehingga benih yang sebutir itu memberikan hasil sebanyak 700 butir. Ini berarti tujuh ratus kali lipat. Bayangkanlah betapa banyak hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir. Dan selanjutnya ALLAH berfirman


"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan emas dan perak itu dalam Neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, 'Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu'." (At-Taubah: 34-35).



"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hart esok (akhirat)." (Al- Hasyr: 18).
Rasulullah Shallallahu’Ala ihi wa Sallam bersabda: “Tidaklah ada satu hari pun yang dilalui oleh setiap hamba pada pagi harinya, kecuali ada dua malaikat yang turun, berkata salah satu dari keduanya: Ya Allah berilah orang yang suka menginfakkan hartanya berupa ganti (dari harta yang diinfakkan tersebut), dan berkata (malaikat) yang lain: Ya Allah, berilah orang yang kikir kebinasaan (hartanya)”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Sebagai-bagian dari proses perkaderan yang telah berjalan lama,sejak jaman pergerakan kemerdekaan Bangsa Indonesia, sebagaimana sering disampaikan oleh para pendahulu kita Lafran Pane “bahwa HMI merupakan organisasi Kader yang pada mulanya hanya beranggotakan 14 orang dan hanya ada di Yogyakarta ternyata saat ini sudah tersebar di seluruh Indonesia dengan ribuan kadernya. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kader HMI yang kemudian menjadi tokoh-tokoh yang berpengaruh di Indonesia.

Perkembangan Kader HMI yang ada tersebut dipengaruhi beberapa hal diantaranya: Pertama, posisi HMI sebagai organisasi kader, sehingga untuk lebih mementingkan kualitas, daripada kuantitas, parameter dari organisasi kader adalah struktur pengkaderan HMI yang sangat panjang dan bertingkat, dari mulai Latihan Kader (LK) I yang meningkat menjadi LK II dan paling tinggi adalah LK III, hal itu masih ditambah event-event pengkaderan HMI lainnya sepert Senior Course (SC), Upgrading maupun Lokakarya pengkaderan. Gerakan-gerakan ini karena tidak terikat oleh kepentingan siapapun dan ranah pergerakan HMI lebih luas daripada organisasi intrakampus.

Sejalan dengan perkembangan perkaderan tersebut, proses perkaderan yang berjalan di HMI Komisariat Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya Malang mengalami hal serupa. Sejak berdirinya Fakultas Ilmu Ketatanegaran dan Ketataniagaan (FKK/FIA) di universitas Brawijaya, HMI ikut andil mewarnai proses perkembangan keilmuan serta pengembangan fakutas tersebut melalui institusi “Komisariat Ilmu Administrasi”. Hingga saat ini, proses perkaderan yang dilakukan oleh HMI Komisariat Ilmu Administrasi terus berjalan untuk mewujudkan tujuan dari HMI itu sendiri, yaitu “Terbinanya insan akademis, pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).

Disisi lain, HMI Komisariat Ilmu Administrasi telah melahirkan banyak alumninya yang tersebar diberbagai ranah keprofesian yang ada, baik sebagai Akademisi,Praktisi, Politisi, Profesional, Pengusaha, Petani, dan bidang lainnya (sebagian data dapat dilihat pada : https://alumnihmifia.wordpress.com/). Hubungan antara HMI dengan alumni tidak dapat lepas/dipisahkan begitu saja, terlebih berkaitan dalam mewujudkan syiar islam. Alumni atau paska ber-HMI (menjadi anggota HMI) dituntut untuk tetap mengemban dan mengamalkan apa yang telah didapat selama ber-HMI , nilai-nilai HMI yang terangkum dalam NDP/NIK harus dipegang dalam menjalankan aktivitas. Selain itu, alumni HMI dihadapkan pada sebuah tanggungjawab moril dimana memposisikan dirinya akan keberlanjutan generasi dibawahnya. Tanggungjawab moril tersebut merupakan bentuk kepedulian yang harus ditanamkan pada alumni HMI untuk tetap berkiprah dalam mewujudkan generasi-generasi muda yang cinta ilmu pengetahuan dan teknologi.

Untuk itu pembangunanan Islamic Center, Masjid Al-Insan Cita selain sebagai pusat peribadatan umat islam secara umum, juga akan difungsikan sebagai Pusat Pemberdayaan dan pengembangan kader HMI dan KAHMI antara lain :

a. Mengintensifkan Kajian-kajian Ke-Islaman dan Keilmuan Kontemporer

Saat ini, masyarakat melihat bahwa keberadaan majelis ta’lim merupakan salah satu alternatif bagi pembinaan mental keagamaan, sesuatu yang selama ini kurang dapat diberikan oleh lembaga pendidikan formal melalui kurikulum yang bersifat intrakurikuler.
Pada saat lembaga-lembaga pendidikan formal, baik umum maupun agama, yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta mulai dirasa kurang mampu membina mental keagamaan dan penguasaan terhadap tuntutan praktis dan ajaran agama secara memuaskan, masjid memberikan peluang sangat luas dan terbuka bagi majelis taklim untuk menampilkan keberadaannya sebagai wahana dan metode pembelajaran agama yang dinamis dan demokratis, di tengah-tengah keformalan dan keterbatasan metode pembelajaran agama secara klasikal dan konvensional di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya.

b. Melibatkan Para Kader HMI dan KAHMI

Tidak diragukan lagi bahwa para kader memiliki peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika kader pemuda yang baik dan terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda umat ini yang akan mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut.
Bagi pengelola masjid sendiri, keberadaan pemuda sejatinya juga penting dalam mendukung tercapainya kemakmuran masjid yang dicita-citakan. Pasalnya, kendati tanpa pemuda kegiatan masjid tetap bisa berjalan, namun secara jangka panjang tidak ada jaminan hal tersebut akan terus berlangsung, bahkan menjadi lebih baik dan bermutu. Bagaimanapun, keadaan masjid pada sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun mendatang, salah satu tolok ukurnya adalah bagaimana kondisi remajanya pada masa sekarang. Bila tidak ada pembinaan dan proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan berkesinambungan sejak dini, bisa dipastikan masa depan masjid bersangkutan akan suram.

c. Ruang Belajar Mahasiswa

Salah satu faktor penyebab mundurnya peradaban dan umat Islam adalah jauhnya umat Islam dari ilmu pengetahuan (baca: buku). Pembinaan umat yang selama ini berjalan cenderung hanya menggunakan pendekatan komunikasi lisan satu arah yang justru membuat para jamaah terbiasa dengan budaya dengar. Pembinaan terpusat pada dai, ustadz, atau juru dakwah semata. Alhasil, jamaah tidak termotivasi, tidak mandiri, dan menjadi pasif dalam mendalami ajaran Islam.
Membaca dan belajar merupakan bagian paling penting dari proses menuntut ilmu. Dengan membaca kita jadi tahu apa yang selama ini tidak kita ketahui. Dengan membaca inilah ilmu kita dapatkan, amal bisa kita tegakkan, dan dakwah bisa kita suarakan, Perpustakaan masjid sebagai perpustakaan komunitas bisa menjadi sebuah alternatif yang sangat bagus jika dikelola dengan baik.

Berdasarkan ulasan diatas maka kami Alumni HMI Komisariat Ilmu Administrasi yang berhimpun dalam Yayasan Harapan Mulia Insani mencoba untuk memberikan gagasan dan subangsih nyata melalui pembangunan Masjid Al-Insan Cita. Pembangunan masjid kami lakukan sebagi tanggungjawab moril untuk mewujudkan generasi-generasi muda yang lebih berkualitas, dan semata-mata hanya untuk mengharap ridho Allah SWT. 

Maksud Dan Tujuan

Maksud dilakukannya pembangunan Masjid dan Islamic Centre Al-Insan Cita adalah membangun rumah ibadah yang representatif bagi umat Islam sebagai upaya yang ditujukan untuk:
a. Memfasilitasi dan memberikan kenyamanan kepada ummat dalam beribadah.
b. Menjadikan masjid sebagai Islamic Center, pusat aktivitas ummat termasuk dakwah amal ma’ruf nahi munkar serta sarana pendidikan menuntut ilmu agama dan Ilmu-Ilmu umum kontemporer lainnya
c. Menggiatkan dan meningkatkan partisipasi aktif masyarakat khususnya ummat dan mahasiswa muslim dari Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya, dalam hal dakwah, pembinaan, aktifitas sosial sehingga meningkatkan keimanan dan ketaqwaan jamaah masjid dan lingkungan sekitarnya kepada Allah Subhanahu Wa Taála (keshalehan individu) dan tercipta kehidupan masyarakat yang Islami dengan ketaqwaan dan terbina ukhuwah di antara sesama warga (keshalehan sosial)
d. Memberikan sarana bagi ummat untuk berinfaq di jalan Allah dengan menyisihkan hartanya sebagai amal infaq shodaqoh jariyah.
Share this article :

0 komentar:

Speak up your mind

Tell us what you're thinking... !

 
Support : Copyright © 2017. YAYASAN HARAPAN MULIA INSANI (YHMI) - All Rights Reserved