Dasar Pemikiran Pembangunan Masjid dan
Islamic Centre Al-Insan Cita
Rasulullah Shallallahu’Ala ihi wa Sallam
mengingatkan bahwa sebaik-baik shalat ialah shalat yang dikerjakan di rumah
kecuali shalat fardhu. Shalat fardhu lebih utama dikerjakan di masjid secara
berjamaah. Hal ini menunjukkan pentingnya masjid sebagai sarana ibadah.
Orang-orang yang terikat hatinya dengan masjid termasuk golongan yang akan
mendapatkan perlindungan Allah di hari kiamat, demikian dijelaskan rasulullah
dalam salah satu sabdanya. Pengadaan masjid termasuk salah satu investasi amal
yang akan mengalirkan pahala terus menerus bagi orang-orang yang berinfaq untuk
membangunnya. Karena hal ini termasuk salah satu dari tiga amal yang dinyatakan
oleh Rasulullah Shallallahu’Ala ihi wa Sallam: “Apabila anak Adam (manusia)
meninggal dunia, maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara,
yaitu: sedekah jariah (termasuk membangun mushola), ilmu yang bermanfaat dan
anak yang shaleh yang mendoakan kedua orang uanya” (HR. Muslim). Bagi mereka
yang membangun masjid/ mushola atau menyediakan dana untuk pembangunan termasuk
dalam kategori Firman Allah Al-Baqarah : 261
“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang
menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang
menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat
gandakan (ganjaran) agi siapa yang Dia kehendaki. dan Allah Maha Luas
(karunia-Nya) lagi Maha mengetahui” (QS. Al-Baqarah : 261)
Betapa mujurnya orang yang suka menafkahkan
hartanya di jalan Allah oleh ayat ini dilukiskan sebagai berikut: bahwa orang
tersebut adalah seperti seorang yang menyemaikan sebutir benih di tanah yang
subur. Benih yang sebutir itu menumbuhkan sebatang pohon dan pohon itu
bercabang tujuh, setiap cabang menghasilkan setangkai buah dan setiap tangkai
berisi seratus biji sehingga benih yang sebutir itu memberikan hasil sebanyak
700 butir. Ini berarti tujuh ratus kali lipat. Bayangkanlah betapa banyak
hasilnya apabila benih yang ditanamnya itu lebih dari sebutir. Dan selanjutnya
ALLAH berfirman
"Dan orang-orang yang menyimpan emas dan
perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah maka beritahukanlah kepada
mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih, pada hari dipanaskan
emas dan perak itu dalam Neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi mereka,
lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka, 'Inilah harta
bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat
dari) apa yang kamu simpan itu'." (At-Taubah: 34-35).
"Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hart esok (akhirat)." (Al- Hasyr: 18).
Rasulullah Shallallahu’Ala ihi wa Sallam
bersabda: “Tidaklah ada satu hari pun yang dilalui oleh setiap hamba pada pagi
harinya, kecuali ada dua malaikat yang turun, berkata salah satu dari keduanya:
Ya Allah berilah orang yang suka menginfakkan hartanya berupa ganti (dari harta
yang diinfakkan tersebut), dan berkata (malaikat) yang lain: Ya Allah, berilah
orang yang kikir kebinasaan (hartanya)”. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sebagai-bagian dari proses perkaderan yang
telah berjalan lama,sejak jaman pergerakan kemerdekaan Bangsa Indonesia,
sebagaimana sering disampaikan oleh para pendahulu kita Lafran Pane “bahwa HMI
merupakan organisasi Kader yang pada mulanya hanya beranggotakan 14 orang dan
hanya ada di Yogyakarta ternyata saat ini sudah tersebar di seluruh Indonesia
dengan ribuan kadernya. Sudah tidak terhitung lagi berapa banyak kader HMI yang
kemudian menjadi tokoh-tokoh yang berpengaruh di Indonesia.
Perkembangan Kader HMI yang ada tersebut
dipengaruhi beberapa hal diantaranya: Pertama, posisi HMI sebagai organisasi
kader, sehingga untuk lebih mementingkan kualitas, daripada kuantitas,
parameter dari organisasi kader adalah struktur pengkaderan HMI yang sangat
panjang dan bertingkat, dari mulai Latihan Kader (LK) I yang meningkat menjadi
LK II dan paling tinggi adalah LK III, hal itu masih ditambah event-event
pengkaderan HMI lainnya sepert Senior Course (SC), Upgrading maupun Lokakarya
pengkaderan. Gerakan-gerakan ini karena tidak terikat oleh kepentingan siapapun
dan ranah pergerakan HMI lebih luas daripada organisasi intrakampus.
Sejalan dengan perkembangan perkaderan
tersebut, proses perkaderan yang berjalan di HMI Komisariat Ilmu Administrasi
Universitas Brawijaya Malang mengalami hal serupa. Sejak berdirinya Fakultas
Ilmu Ketatanegaran dan Ketataniagaan (FKK/FIA) di universitas Brawijaya, HMI
ikut andil mewarnai proses perkembangan keilmuan serta pengembangan fakutas
tersebut melalui institusi “Komisariat Ilmu Administrasi”. Hingga saat ini,
proses perkaderan yang dilakukan oleh HMI Komisariat Ilmu Administrasi terus berjalan
untuk mewujudkan tujuan dari HMI itu sendiri, yaitu “Terbinanya insan akademis,
pencipta, pengabdi yang bernafaskan Islam, dan bertangung jawab atas
terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT” (pasal 4 AD HMI).
Disisi lain, HMI Komisariat Ilmu Administrasi
telah melahirkan banyak alumninya yang tersebar diberbagai ranah keprofesian
yang ada, baik sebagai Akademisi,Praktisi, Politisi, Profesional, Pengusaha,
Petani, dan bidang lainnya (sebagian data dapat dilihat pada :
https://alumnihmifia.wordpress.com/). Hubungan antara HMI dengan alumni tidak
dapat lepas/dipisahkan begitu saja, terlebih berkaitan dalam mewujudkan syiar
islam. Alumni atau paska ber-HMI (menjadi anggota HMI) dituntut untuk tetap
mengemban dan mengamalkan apa yang telah didapat selama ber-HMI , nilai-nilai
HMI yang terangkum dalam NDP/NIK harus dipegang dalam menjalankan aktivitas.
Selain itu, alumni HMI dihadapkan pada sebuah tanggungjawab moril dimana
memposisikan dirinya akan keberlanjutan generasi dibawahnya. Tanggungjawab
moril tersebut merupakan bentuk kepedulian yang harus ditanamkan pada alumni
HMI untuk tetap berkiprah dalam mewujudkan generasi-generasi muda yang cinta
ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk itu pembangunanan Islamic Center,
Masjid Al-Insan Cita selain sebagai pusat peribadatan umat islam secara umum,
juga akan difungsikan sebagai Pusat Pemberdayaan dan pengembangan kader HMI dan
KAHMI antara lain :
a. Mengintensifkan Kajian-kajian Ke-Islaman
dan Keilmuan Kontemporer
Saat ini, masyarakat melihat bahwa keberadaan
majelis ta’lim merupakan salah satu alternatif bagi pembinaan mental keagamaan,
sesuatu yang selama ini kurang dapat diberikan oleh lembaga pendidikan formal
melalui kurikulum yang bersifat intrakurikuler.
Pada saat lembaga-lembaga pendidikan formal,
baik umum maupun agama, yang dilaksanakan pemerintah maupun swasta mulai dirasa
kurang mampu membina mental keagamaan dan penguasaan terhadap tuntutan praktis
dan ajaran agama secara memuaskan, masjid memberikan peluang sangat luas dan
terbuka bagi majelis taklim untuk menampilkan keberadaannya sebagai wahana dan
metode pembelajaran agama yang dinamis dan demokratis, di tengah-tengah
keformalan dan keterbatasan metode pembelajaran agama secara klasikal dan
konvensional di sekolah-sekolah dan lembaga pendidikan formal lainnya.
b. Melibatkan Para Kader HMI dan KAHMI
Tidak diragukan lagi bahwa para kader memiliki
peran yang sangat penting dalam tatanan kehidupan manusia secara umum dan
masyarakat kaum muslimin secara khusus, karena jika kader pemuda yang baik dan
terdidik dengan adab-adab Islam maka merekalah yang akan menyebarkan dan
mendakwahkan kebaikan Islam serta menjadi nakhoda umat ini yang akan
mengantarkan mereka kepada kebaikan dunia dan akhirat. Hal ini dikarenakan
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan kepada mereka kekuatan badan dan
kecemerlangan pemikiran untuk dapat melaksanakan semua hal tersebut.
Bagi pengelola masjid sendiri, keberadaan
pemuda sejatinya juga penting dalam mendukung tercapainya kemakmuran masjid
yang dicita-citakan. Pasalnya, kendati tanpa pemuda kegiatan masjid tetap bisa
berjalan, namun secara jangka panjang tidak ada jaminan hal tersebut akan terus
berlangsung, bahkan menjadi lebih baik dan bermutu. Bagaimanapun, keadaan
masjid pada sepuluh, dua puluh, atau tiga puluh tahun mendatang, salah satu
tolok ukurnya adalah bagaimana kondisi remajanya pada masa sekarang. Bila tidak
ada pembinaan dan proses pengkaderan yang terstruktur, berjenjang, dan
berkesinambungan sejak dini, bisa dipastikan masa depan masjid bersangkutan
akan suram.
c. Ruang Belajar Mahasiswa
Salah satu faktor penyebab mundurnya
peradaban dan umat Islam adalah jauhnya umat Islam dari ilmu pengetahuan (baca:
buku). Pembinaan umat yang selama ini berjalan cenderung hanya menggunakan
pendekatan komunikasi lisan satu arah yang justru membuat para jamaah terbiasa
dengan budaya dengar. Pembinaan terpusat pada dai, ustadz, atau juru dakwah
semata. Alhasil, jamaah tidak termotivasi, tidak mandiri, dan menjadi pasif
dalam mendalami ajaran Islam.
Membaca dan belajar merupakan bagian paling
penting dari proses menuntut ilmu. Dengan membaca kita jadi tahu apa yang
selama ini tidak kita ketahui. Dengan membaca inilah ilmu kita dapatkan, amal
bisa kita tegakkan, dan dakwah bisa kita suarakan, Perpustakaan masjid sebagai
perpustakaan komunitas bisa menjadi sebuah alternatif yang sangat bagus jika
dikelola dengan baik.
Berdasarkan ulasan diatas maka kami Alumni
HMI Komisariat Ilmu Administrasi yang berhimpun dalam Yayasan Harapan Mulia
Insani mencoba untuk memberikan gagasan dan subangsih nyata melalui pembangunan
Masjid Al-Insan Cita. Pembangunan masjid kami lakukan sebagi tanggungjawab
moril untuk mewujudkan generasi-generasi muda yang lebih berkualitas, dan
semata-mata hanya untuk mengharap ridho Allah SWT.
Maksud Dan Tujuan
Maksud dilakukannya pembangunan Masjid dan
Islamic Centre Al-Insan Cita adalah membangun rumah ibadah yang representatif
bagi umat Islam sebagai upaya yang ditujukan untuk:
a. Memfasilitasi dan memberikan kenyamanan
kepada ummat dalam beribadah.
b. Menjadikan masjid sebagai Islamic Center,
pusat aktivitas ummat termasuk dakwah amal ma’ruf nahi munkar serta sarana
pendidikan menuntut ilmu agama dan Ilmu-Ilmu umum kontemporer lainnya
c. Menggiatkan dan meningkatkan partisipasi
aktif masyarakat khususnya ummat dan mahasiswa muslim dari Fakultas Ilmu
Administrasi Universitas Brawijaya, dalam hal dakwah, pembinaan, aktifitas
sosial sehingga meningkatkan keimanan dan ketaqwaan jamaah masjid dan
lingkungan sekitarnya kepada Allah Subhanahu Wa Taála (keshalehan individu) dan
tercipta kehidupan masyarakat yang Islami dengan ketaqwaan dan terbina ukhuwah
di antara sesama warga (keshalehan sosial)
d. Memberikan sarana bagi ummat untuk
berinfaq di jalan Allah dengan menyisihkan hartanya sebagai amal infaq shodaqoh
jariyah.





0 komentar:
Speak up your mind
Tell us what you're thinking... !